Selasa, 08 Oktober 2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma, dan dapat pula dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam prakteknya, suatu habitat dikatakan akuatik apabila mediumnya baik eksternal maupun internalnya adalah air.
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna).
Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003).
Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan adalah :
1. Rendah kadar amonia dan nitrit
2. Bersih secara kimiawi
3. Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai
4. Rendah kadar cemaran organik, dan
5. Stabil
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH, Konduktivitas, Kecerahan, Alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (Plankton dan Benthos) (Sihotang, 2006).
Suhu suatu perairan juga dipengaruhi oleh sinr matahari dan sedimentasi yang terdapat disuatu perairan tersebut.
1.2.      TUJUAN
            Tujuan dilakukannya pratikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis – jenis air terhadap suhunya. Dan sebagai media pembelajaran bagi mahasisiwa.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       AIR
Air, merupakan sumber daya alam yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak, oleh sebab itu perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
Namun, sebagai akibat dari pesatnya proses pembangunan di segala bidang, baik bidang pertanian, peternakan, industri dan lain-lain, serta laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat seringkali pemanfaatan air tidak lagi dilakukan sebagaimana mestinya. Hal ini memberikan dampak negatif yang tidak sedikit yaitu mempengaruhi baik sifat fisik maupun sifat kimia air, sehingga menurunkan kualitas air.
Menurut PP. No 82 tahun 2001, menurut peruntukannya, air dapat dibagi atas 4 kelas yaitu:
Kelas I             : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa            pengolahan terlebih dahulu.
Kelas II         : Air yang dapat digunakan sebagai bahan air minum
Kelas III       : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
Kelas IV          : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik tenaga air.
2. 2.     SUMBER PENCEMARAN AIR
Sumber pencemaran air sangat ditentukan oleh jenis kegiatan serta pemanfaat sumber daya air oleh manusia yang berada disekeliling air tersebut. Kualitas air menjadi menurun sebagai akibat dari masuknya berbagai limbah, baik limbah cair maupun padat kedalam aliran air ataupun danau. Limbah tersebut berasal dari:
1.      Daerah pemukiman.
Yaitu berupa limbah domestik. Bahan pencemaran umumnya berupa bahan-bahan organik seperti: karbohidrat, minyak dan lemak, protein dan lain-lain.
2.      Daerah pertanian.
Bahan pencemar dapat berupa residu pestisida, pupuk dan lain-lain.
3.      Daerah peternakan dan perikanan.
Bahan pencemar umumnya berupa sisa-sisa makanan ternak, kotoran ternak dan lain-lain.
4.      Kawasan industri.
Bahan pencemar dapat berupa bahan-bahan organik, unsur-unsur lain seperti logam berat, serta barang berbahaya dan beracun lainnya.

Berbagai kegiatan/industri memang berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap kualitas lingkungan termasuk air, oleh sebab itu pemerintah telah menetapkan baku mutu limbah cair untuk berbagai jenis kegiatan maupun industri seperti yang diatur pada KEPMEN LH. NO.51/ MENLH/10/1995, yang isinya antara lain perlu dilakukan pengendalian terhadap pembuangan limbah cair ke lingkungan.
Yang dimaksud dengan baku mutu limbah cair adalah batas maksimum nilai-nilai paremeter limbah cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan (badan air). Sedangkan limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh suatu kegiatan atau industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan (air ).
Mutu limbah cair adalah keadaan limbah cair yang dinyatakan dengan debit maksimum, kadar maksimum dan beban pencemaran.
§  Debit maksimum yaitu : debit tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke lingkungan.
§  Kadar maksimum yaitu : kadar tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke lingkungan.
§  Beban pencemaran maksimum : beban tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke lingkungan.
Itulah sebabnya sebelum dibuang ke sistem perairan, limbah cair terlebih dahulu harus diolah pada Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), sampai kualitas yang dicapai memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Namum pada kenyatannya kebanyakan industri maupun kegiatan lain masih membuang begitu saja limbahnya kea badan air, tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air.
2. 3.     DATA KUALITAS AIR
Kulaitas air ditenttukan oleh berbagai parameter antara lain parameter fisik (warna, suhu, total padatan tersuspensi) dan parameter kimia (pH, DO, BOD, COD). Jenis dan jumlah parameter yang dianalisis terhadap suatu badan air sangat tergantung pada jenis kegiatan yang diprakirakan memberikan dampak terhadap badan air tersebut.
2. 3. 1. Parameter Fisik
Ada beberapa parameter fisik yang menentukan kualitas air, antara lain:
a. Warna
Air alami, yang sama sekali belum mengalami pencemaran, berwarna bening, atau sering dikatakan tak berwarna. Timbulnya warna disebabkan oleh kehadiran bahan-bahan tersuspensi yang berwarna, ekstrak senyawa-senyawa organik ataupun tumbuh-tumbuhan dan karena terdapatnya mikro organisme seperti plankton, disamping itu juga akibat adanya ion-ion metal alami seperti besi dan mangan. Komponen penyebab warna, khususnya yang berasal dari limbah industri kemungkinan dapat membahayakan bagi manusia mau bagi biota air. Disamping itu warna air juga memberi indikasi terdapatnya senyawa-senyawa organik, yang melalui proses klorinasi dapat meningkatkan pertumbuhan mikro organisme air.

b. Bau dan Rasa
Air alami yang sama sekali belum tercemar dikatakan tidak berbau dan tidak berasa. Air yang berbau sudah pasti menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan. Adanya bau dan rasa pada air, menunjukkan terdapatnya organisme penghasil bau dan juga adanya bahan-bahan pencemar yang dapat mengganggu kesehatan.
c. Suhu
Dalam setiap penentuan kualitas air, pengukuran suhu merupakan hal yang mutlak dilakukan. Pengukuran suhu air biasanya dilakukan langsung di lapangan. Suhu air yang normal berkisar ± 3 0C dari suhu udara. Peningkatan suhu air bisa disebabkan oleh berbagai hal, antara lain, air (sungai) yang dekat dengan gunung berapi, ataupun akibat adanya pembuangan limbah cair yang panas ke badan air. Disamping itu adanya limbah bahan organik, yang lebih lanjut mengalami proses degradasi baik secara biologis maupun kima, seringkali meningkatkan suhu air. Kenaikan suhu air dapat mengakibatkan kelarutan oksigen dalam air menjadi berkurang, sehingga konsumsi oksigen oleh biota air juga menjadi terganggu .

d. Total padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid,TSS)
Total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air, kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme produser.
2. 3. 2. Parameter Kimia
Ada banyak parameter kimia yang menentukan kualitas air, namun yang umum ada beberapa parameter, diantaranya:
a. pH
pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan melalui konsentrasi/aktifitas ion hidrogen (H+). Secara matematis dinyatakan sebagai:

pH = - log (H+).
H+ selalu ada dalam keseimbangan yang dinamis dengan air(H2O) yang membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah pencemaran air, dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis. H+ tidak hanya merupakan unsur molekul H2O saja, tetapi juga merupakan unsur banyak senyawa lain. Dalam air murni, banyaknya molekul H2O yang terionkan ada sebanyak 10-7, sehingga pH air dikatakan 7. Bila konsentrasi ion hidrogen bertambah, maka nilai pH akan turun dan larutan disebut bersifat asam. Sebaliknya, jika konsentrasi ion hidrogen berkurang, menyebabkan nilai pH naik dan larutan disebut bersifat basa.
pH yang ideal bagi kehidupan biota air adalah antara 6,8 sampai 8,5. pH yang sangat rendah, menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air makin besar, yang bersifat toksik bagi organisme air, sebaliknya pH yang tinggi dapat meningkatkan konsentrasi amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi organisme air. pH air biasanya ditentukan langsung di lapangan dengan alat pH-meter, atau dapat juga dengan kertas pH.

b. Oksigen terlarut (DO)
Adanya oksigen terlarut dalam air adalah sangat penting untuk kelangsungan kehidupan ikan dan organisme air lainnya yaitu untuk proses respirasi. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak tergantung pada cukup tidaknya kadar oksigen terlarut. Adanya oksigen terlarut dalam air berasal dari udara dan dari proses fotosintesa tumbuh-tumbuhan air. Kelarutan oksigen dalam air, tergantung pada temperatur, tekanan atmosfer dan kandungan mineral dalam air. Kelarutan maksimum oksigen dalam air, pada suhu 00C yaitu sebesar 14,16 mg/L. Sejalan dengan meningkatnya suhu, maka konsentrasi oksigen dalam air akan berkurang.
Ada dua metode yang umum digunakan untuk analisa oksigen terlarut dalam air yaitu dengan metode titrasi cara Winkler dan metode elektrokimia dengan alat DO-meter.
c. BOD
Angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau disebut juga Kebutuhan Oksigen Biokimiawi adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang sebenarnya terjadi di dalam air.
Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme aerobik untuk menguraikan hampir semua zat organik yang terlarut maupun yang tersuspensi di dalam air. Pengukuran BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk ataupun industri dan untuk mendesain sistim pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organik adalah proses alamiah, yang kalau suatu badan air dicemari oleh zat organik maka selama proses penguraiannya mikroorganisme dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air. Disamping itu kehabisan oksigen dapat mengubah keadaan menjadi anaerobik sehingga dapat menimbulkan bau busuk.
Pengukuran BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik oleh oksigen dalam air, dan proses tersebut berlangsung disebabkan adanya bakter aerobik. Menurut penelitian, untuk supaya 100% bahan organik terurai, diperlukan waktu kira-kira 20 hari. Namun dalam waktu 5 hari, pada temperatur inkubasi 20 0C, bahan organik yang dapat diuraikan mencapai 75%, sehingga waktu ini sudah dianggap cukup. Maka timbullah istilah BOD520 dapat ditentukan dengan mencari selisih antara harga DO0-DO5 dengan metode Azida modifikasi.
d. COD
Angka COD (Chemical Oxygen Demand) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi adalah jumlah O2 (mg) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi total zat-zat organik yang terdapat dalam 1 liter sampel air. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh total zat-zat organik baik yang dapat diuraikan secara biologis, maupun yang hanya dapat diuraikan dengan proses kimia.

Analisa COD berbeda dengan analisa BOD, namun perbandingan antara angka COD dengan angka BOD dapat ditetapkan. Secara umum perbandingan BOD5/COD = 0,40 – 0,60. Pengukuran COD dilakukan dengan metode refluks – titrimtri.
2.4       Tawas
Tawas (Alum) adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2(SO4)3.11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O, umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan, karena bahan ini paling ekonomis,mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi turbidity air baku maka semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan. Pemakaian tawas juga tidak terlepas dari sifat-sifat kimia yang dikandung oleh air baku tersebut.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Al2(SO4)3 2 Al3 + 3 (SO4)-2
Air akan mengalami:
H2O H+ + OH-
selanjutnya
2Al +3 + 6OH- 2 Al(OH)3
Selain itu akan dihasilkan asam
3 (SO4)-2 + 6H+ 3H2SO4
Dengan demikian makin banyak dosis tawas yang ditambahkan maka pH akan semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat. Apabila alkalinitas alami dari air tidak seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinitas, biasanya ditambahkan larutan kapur (Ca(OH)2) atau (Na2CO3). Reaksi yang terjadi:
Al2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 2 Al(OH)3 + 6CO2
Al2(SO4)3 + 3Na2CO3 + 3H2O 2Al(OH)3 + 3 Na2SO4 + 3CO2
1.                  Al2(SO4)3 + 3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4
2.                  Gambar 2. 1. Reaksi penambahan larutan kapur
3.                  Koagulan yang berbasis aluminium seperti aluminium sulfat dan poly aluminium klorida yang digunakan pada pengolahan air minum untuk memperkuat penghilangan materi partikulat, kolloidal dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui proses koagulasi. Pemakaian alum sebagai koagulan dalam pengolahan air, sering menimbulkan konsentrasi aluminium yang lebih tinggi dalam air yang diolah dari pada dalam air mentah itu sendiri (Srinivasan).
2.5       Aluminium
Aluminium merupakan logam yang paling banyak di dunia, ditemukan dalam tanah, dalam air dan udara. Sekitar 6% kerak bumi terdiri dari aluminium. Elemen ini adalah logam paling berlimpah yang secara alami terdapat di udara’ tanah dan air. Oleh karena itu, eksposur lingkungan terhadap aluminium adalah memungkinkan secara potensial.
Perannya tidak bisa dihindari karena senyawa-senyawa aluminium ditambahkan bukan hanya ke suplai air tapi juga kebanyak makanan dan obat yang di proses (Tony Sarvinder Singh). Sifat-sifat kimia dan fisiknya membuatnya ideal untuk berbagai jenis pemakaian. Misalnya, aluminium dan senyawa-senyawanya sering digunakan dalam makanan sebagai aditif, dalam obat-obatan (misalnya antacid), dalam produk konsumen (misalnya alat-alat masak dan aluminium foil) dan dalam pengujian air minum (misalnya koagulan). Karena aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia menunjukkan hubungan antara intake aluminium dan dementia neurologis pada pasien dialisis ginjal (encephalopati dialisis). Akhir-akhir ini publik dan media telah memperhatikan efek buruk yang mungkin dari aluminium terhadap kesehatan manusia, termasuk perannya dalam penyakit Alzheimer, penyakit Parkison dan Sclerosis lateral amyotropik (Lou Gehrings disease), juga mengenai resiko potensial terhadap bayi yang minum formula bayi yang mengandung aluminium.
2. 6.     Sulfur
Sulfur atau belerang adalah unsur kimia di dalam sistim periodik yang mempunyai simbol S dan nomor atom 16. Sulfur bukan logam multivalen yang berlimpah, tanpa rasa dan tanpa bau. Sulfur, dalam bentuk aslinya, adalah satu kristal padat yang berwarna kuning. Dalam alam ditemukan dalam bentuk unsur murni atau dalam bentuk mineral sulfida atau sulfat.  Merupakan unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino. Secara komersilnya, sulfur digunakan terutama dalam baja dan juga digunakan secara meluas dalam mesiu, korek api, racun serangga dan racun jamur.
1.                  Hidrogen sulfida (H2S) dikenal dengan nama sulfana, sulfur hidrida, gas asam (sour gas), sulfurated hydrogen, asam hidrosulfurik, dan gas limbah (sewer gas). Asam sulfida merupakan gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam.









BAB III
MATERI DAN METODE

3.1.     Tempat dan Waktu

Kegiatan dilaksanakan di Workshop Pembenihan Ikan Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang. Kegiatan pratikum ini dilasksanakan pada hari Selasa, 2 Oktober 2012 pada pukul 05.30-20.00 WIB.

3.2.  Bahan
1.      Air Teh
2.      Air Keruh Lumpur
3.      Air Keruh Fitoplankton
4.      Air Danau Opi
5.      Air PAM

3.3.     Alat
1.      15 botol aqua
2.      Pisau
3.      Papan
4.      Thermometer elektrik

3.4       Prosedur Kerja

1.      Menyiapkan semua bahan yang akan digunakan,
§  5jenis air yang berbeda yang dan letakkan di botol aqua.
§  Botol aqua di potong kepalanya  lebih kurang 10 cm dr mulut botol aqua.
2.      Aqua yang telah di isi dengan5jenis air kedalam aqua tersebut, letakkan di atas papan agar panas yang diserap murni dari sinar matahari bukan hasil rambatan dari faktor  lain.
3.      Kemudian ukur suhu masing- masing jenis air dengan Thermometer elektrik dengan 1 jenis air 3 kali pengulangan. Tiap pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00 WIB.
4.      Catat hasilnya.















BAB IV
 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1       HASIL
                           

4.2       PEMBAHASAN
Tiap organisme perairan mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu perairan bagi kehidupan dan pertumbuhan organisme perairan.Oleh karena itu suhu merupakan salah satu faktor fisika perairan yang sangatpenting bagi kehidupan organisme atau biota perairan. Secara umum suhuberpengaruh langsung terhadap biota perairan berupa reaksi enzimatik padaorganisme dan tidak berpengaruh langsung terhadap struktur dan disperse hewan.
Perubahan suhu pada lima jenis air tersebut menunjukkan diagram batang yang memiliki angka suhu yang tinggi pada pukul 15.00 WIB sore dan nilai suhu yang terendah pada pagi hari pukul 06.00. WIB.  Dimana pada pukul 06.00 WIB.
Suhu udara pada waktu pengukuran pada pukul 06.00 WIB yang tercatat ialah 28,80C.  Jadi disini kondisi suhu air rentan masi rendah mengikuti suhu udara belum ada pemuaian cuaca panas yang terjadi, maka suhu air masih rendah karena terpengaruh oleh suhu udara yang rendah.
Pada sore hari pada pukul 15.00 WIB suhu udara yang tercatat yaitu 35,20C ,mengapa pada saat pukul 15.00 suhu air lebih tinggi? Mengapa bukan pada saat pukul 12.00 siang? Karena panas yang paling tinggi terjadi kisaran waktu 12.00 – 15.00 WIB, jadi panas yang diserap oleh air masih tertangkap didalam air karena untuk proses penguapan air itu sendiri terjadi cukup lama. Jadi efek sinar panas di waktu sebelumnya masih terbawa akibat belum menguap.
Dan di saat pukul 18.00 WIB – 21.00 WIB suhu udara kian menurun kembali menuju suhu netral. Dan hasil penelitian suhunya, suhu air kian menurun  dan panas yang terkandung di dalam air kian menyusut mengikuti suhu cuaca.
Partikel air juga mempengaruhi tingkat perubahan suhu. Pada saat menjelang siang hari jenis air yang sedikit mengandung partikel seperti teh, PAM, lebih cepat terjadi perubahan suhu dikarenakan partikel yang terdapat dalam jenis air tersebut tidak mampu menyerap panas yang masuk kedalam perairan tersebut. Pada saat menjelang malam hari menjadi berdanding terbalik Jenis air yang mengandung banyak partikel perubahan suhunya sangat lambat dibandingkan jenis air yang mengandung sedikit partikel. Karena panas yang diserap oleh partikel tersebut yang menghambat proses terjadinya penguapan, karna panas yang diserap oleh partikel.








BAB V
PENUTUP

5.1.    Kesimpulan

§  Perubahan suhu sangat dipengaruhi oleh partikel yang terdapat dalam suatu perairan. Semakin sedikit partikel air maka suhu air akan cepat berubah.
§  Penguapan panas didalam air dipengaruhi oleh partikel. Semakin banyak partikel maka akan semakin lama suhu perairan akan turun pada malam hari.
5.2.   Saran.

1.      Dalam melakukan penelitian pengukuran suhu udara dan suhu air dilakukan dengan cermat dan teliti.

2.      Pada saat penelitian sebaiknya kondisi cuaca netral, karena  pada saat melakukan penelitian cuaca di pukul 09.00 – 12.00 sedikit mendung.













DAFTAR PUSATAKA

Sitohang, Clemens dkk. 2010. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27492/3/Chapter%20II.pdf

Effendie. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perairan. Kanisius.Jogjakarta ,1979 Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri












Senin, 12 November 2012

transportasi ikan


JENIS-JENIS TRANSPORTASI IKAN
cara transportasi benih ikan.gif

 












Transportasi ikan segar adalah pengangkutan hasil perikanan segar dengan sarana dan prasarana ke tujuan dengan mempertahankan sifat kesegaran ikan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi:
1.      IKAN
Jenis Ikan : Ikan yang hidup pada daerah yang membutuhkan energi tinggi akan lebih cepat menurun kesegarannya.
Ukuran ikan : yang lebih kecil akan cepat mengalami penurunan kesegaran setelah ikan mati.
2.      Lingkungan
Cuaca : ikan yang di tangkap pada daerah yang beriklim tropis (panas) akan lebih lama masa penyimpanannya dibandingkan dengan ikan yang hidup di daerah dingin.
Pencemaran : ikan yang berada pada lingkungan tercemar,saat ikan mati proses pembusukanya akan lebih cepat.

3.      Cara  Panen
Proses pemanenan akan membuat ikan strees dan mengeluarkan energi yang banyak sehingga massa simpan ikan berkurang
Packing ikan segar
                     Packing ikan segar menggunakan kotak stryfoam atau cool box dengan menambahkan es.
Jenis – jenis es yang digunakan :
-          Es batu
-          Es kering (karbondioksida yang dibekukan)
-          Es dari air laut
Semuanya dikombinasikan dengan garam.
Kelebihan packing dengan es batu
1.      Cepat mendinginkan ikan
2.      Harga relatif murah
3.      Tidak berbahaya
4.      Dapat mempertahankan kelembaban
Hal-hal yang perlu diperhatikan                                                                            
1.      Jumlah batu es
2.      Ukuran kristal
Semakin kecil esbatu maka akan semakin cepat mencapai suhu  00C karena luas permukaan tubuh ikan yang bersinggungan dengan es batu makin besar.

·   Cara penyusunan ikan
 










Penyusunan bulking & Penyusunan selving
ü  Jumlah es batu yang digunakan dapat dihitung dengan mengetahui jumlah panas yang dilepas dari tubuh ikan.
ü  Menurut evi eliviawati dan eddy afriyanto(2010) es batu memiliki panas laten sebesar 80 kkal/kg es batu
Artinya: dibutuhkan energi sebesar 80 kkal untuk mencairkan 1kg es batu
ü  Untuk mengetahu jumlah es batu yang diperlukan untuk menurukan suhu dari 300C menjadi 00C pada ikan dengan bobot 100kg  yaitu:
Panas yang dilepas      = bobot x selisih waktu x panas ikan lingkungan spesifikasi ikan
                                    = 100 kg x (300C-00C) x 0,84
                                    = 2520 kkal
Jumlh es yang dibutuhkan
1 kg es =       80 kkal
x  = 2520 kkal
 
    = 31,5 kg
Maka jumlah es batu yang digunakan harus lebih dari 31,5 kg
-          Kelebihan
* Pengangkutan lebih mudah
-          Kelemahan
* kesegaran ikan tidak akan bertahan lama saat ikan dibuka atau terjadi kontak udara karena ikan tidak dalam keadaan hidup lagi.
* nilai jual lebih rendah dari ikan hidup.
Transportasi ikan hidup
                     Pengertian: mengangkut hasil perikanan tangkap maupun hasil budidaya berupa telur, larva, benih, atau uk. Konsumsi dengan menggunakan sarana dan prasarana ketujuan dengan mempertahankan kualitas ikan dan SR tetap tinggi. 
Berdasarkan media pengangkutan:
-          Transportasi basah
-          Transportasi kering

A.    Transportasi basah
                     Media transportasi menggunakan air, prinsipnya membuat ikan nyaman selama pengangkutan sehingga tetap dalam keadaan hidup saat sampai ditujuan.
                     Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :
1)      Sistem Terbuka
                     Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.
2)      Sistem Tertutup
                     Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (Berka, 1986).
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi :
ü  DO ( Disolve Oksigen)
Do merupakan jumlah kelarutan oksigen dalam perairan
-          Semakin banyak jumlah ikan pada suatu tempat pengangkutan maka akan meningkatkan oksigen lebih banyak.
-          Konsumsi oksigen lebih tinggi saat pertama ikan dimasukkan kewadah pengangkutan.
ü  CO2
-    Peningkatan CO2 dapat membahayakan ikan dan merupakan faktor pembatas
-    CO2↑O2↓SR↓
Keadaan ini biasanya terjadi pada akhir  pengangkutan.
-    Ikan akan sulit bernapas apabila CO2 walaupun jumlah DO tinggi.
-     Setiap 1ml o2 yang dikonsumsi akan menghasilkan 0,9ml CO2
ü  pH
-    CO2↑ pH↓ ( menjadi asam) dan perubahan inimembuat keadaan ikan menjadi setres
-    Keadaan ini dapat dinetralkan dengan penambahan buffer
Ex: trishydroxy/methil amino metana dapat digunakan pada air laut ataupun air tawar
ü  Amonia (NH3)
-    Peningkatan amonia oleh aktipitas metabolisme protein, aktivitas bakteri pada sisa pakan.
-    Amonia dapat diturunkan dengan mengurangi laju metabolisme dengan menurunkan suhu dan aktivitas ikan
ü  Suhu
-    Pengangkutan ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau membuat pengangkutan lebih sejuk
-    Dengan peningkatan suhu makan akan meningkatkan aktivitas ikan dan konsumsi oksigen.
ü  Biologi ikan
1.      Ukuran
-          Dipisahkan berdasarkan ukuran ikan agar tidak terjadi persaingan didalam wadah pengangkutan.
2.      Umur ikan


3.      Jenis ikan
-          Jenis ikan akan mempengaruhi pertahanan ikan.
Ada ikan yang lebih tahan dengan kondisi O2.
Ex: labirin pada gurami, sepat
Abborescent pada lele dan gabus.
ü  Jarak tempuh
-          Jarak tempuh akan mempengaruhi kepadatan ikan dalam wadah transportasi.
-           
B.     Transportasi Sistem Kering (Semi Basah)

Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar .
Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap .

PEMINGSANAN IKAN
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi ..
Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.



       1.     Pemingsanan dengan penggunaan  suhu rendah .
Metode pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
-          penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukan dalam air yang bersuhu 100 – 150C. Sehingga ikan akan pingsan.
-          Penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.
2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)

Bahan anestasi yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah :

No
BAHAN
DOSIS
1
MS-222
0.05 mg / l
2
Novacaine
50 mg / kg berat ikan
3
Barbitas sodium
50 mg / kg berat ikan
4
Ammobarbital sodium
85 mg / kg berat ikan
5
Methyl paraphynol (dormisol)
30 mg / l
6
Tertiary amyl alcohol
30 mg / l
7
Choral hydrate
3-3.5 g lt
8
Urethane
100 mg / l
9
Hydroksi quinaldine
1 mg / l
10
Thiouracil
10 mg / l
11
Quinaldine
0.025 mg / l
12
2-Thenoxy ethanol
30 – 40 ml / 100 lt
13
Sodium ammital
52    – 172 mg / l

Selain bahan-bahan anestasi sintetik diatas pembiusan juga dapat dilakukan dengan menggunakan zat  caulerpin  dan caulerpicin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Pembiusan  ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu :
ü  Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani.
ü  Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
ü  Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran
-           
Proses pembiusan ikan meliputi 3 tahap yaitu :
1.       Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam muara pernapasan organisme
2.       Difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya penyerapan bahan pembius ke dalam darah.
3.       Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan subtansi ke seluruh tubuh. Kecepatan distribusi dan penyerapan oleh sel bergantung pada persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap jaringan sehingga bahan anestasi juga harus mudah larut dalam air dan lemak.

3. Pemingsanan Ikan dengan Arus Listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.

PENGEMASAN
Pada pengangkutan kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Menurut Wibowo (1993), yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Selanjutnya disebutkan bahwa bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Namun penggunaan karung goni sudah tidak digunakan karena hasilnya kurang baik. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia.Dari bahan pengisi yaitu sekam padi, serbuk gergaji, dan rumput laut , menururt Wibowo (1993) ternyata sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu :
-          Berongga
-          Mempunyai kapasitas dingin yang memada
-          Tidak beracun, dan
-          Memberikan RH tinggi.
Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya. Sedangkan rumput laut kurang efektif karena menimbulkan lendir dan bau basi selama digunakan

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TRANSPORTASI
·         Cara Panen
-    Ketika akan memanen ikan harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak menurunkan mutu ikan.
-    Alat tangkap atau alat panen yang dapat melukai ikan makaakan menurunkan nilai ekonomis ikan.
-    Ikan yang ditangkap dengan menggunakan bubu tingkat stres ikan lebih kecil.
-    Ketika ikan terluka maka akan membuat ikan stres untuk pengangkutan ikan hidup. Sedangkan pengangkutan ikan segar mutu keegaran ikan akan cepat menurun jika terdapat luka atau memar pada tubuh ikan.
-    Panen ikan sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar mngurangi tingkat stres ikan.
·         Jarak Tempuh Pengangkutan
-    Jarak tempuh dan lama perjalanan akan mempengaruhi:
1.      Cara pengepakan ikan.
2.      Jumlah es batu yang digunakan.
3.      Jenis pengangkutan ikan (terbuka atau tertutup)

·         Faktor lingkungan
1.      Suhu lingkungan
-    Peningkatan temperatur akan meningkatkan aktivitas tubuh ikan sehingga akan mengeluarkan banyak energi dan tingkat setres ikan
-    Peningkatan suhu akan menningkatkan kerja enzim. Dan mempercepat proses pembusukan ikan segar
2.      Sanitasi
-          Lingkungan hidup ikan akan mempengaruhi aroma ikan yang akan mempengaruhi nilai ekonomis ikan. Misalnya: bau lumpur pada ikan bandeng. Dapat dihilangkan dengan memelihara ikan terlebih dahulu pada bak dengan air mengalir selama beberapa hari.
-          Pada ikan segar, ikan yang ditangkap dan diperoleh pada lingkungan yang tercemar akan mengalami penurunan kesegaran lebih cepat karena sjumlah mikroba lebih banyak.
-          Masa penyimpanan ikan juga akan lebih cepat.
-          Ikan yang telah disiangi memiliki waktusimpan yang lebih lama
·         Faktor biologi
1.      Jenis ikan
-          Jenis ikan palegis( hidup dipermukaan) aktivitasnya lebih banyak sehingga ketika ikan diangkut dalam keadaan mati atau segar akan lebih cepat mengalami penurunan kualitas dibanding ikan demersal.
-          Ikan  dengan kandungan lemak tinggi juga akan cepat mengalami penurunan mutu
-          Pada transportasi ikan hidup ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan akan lebih tahan terhadap setres karena tahan terhadap penurunan oksigen.
2.      Ukuran ikan
-          Pada transfortasi ikan hidup, ikan berukuran kecil lebih rentan terhadap setres( kecuali setadia D0 - D10
-          Ikan kecil lebih banyak membutuhkan oksigen pada saat melakukan pengangkutan karena aktivitas lebihbanyak dibandingkan ikan berukuran besar
-          Untuk ikan segar, ikan yang beru `kuran lebih besar mampu mempertahankan kesegaran lebih lama dibandingkan ikan berukuran kecil karena dalam bobot yang sama ikan bisa memiliki luas permukaan lebih kecil dibandingkan ikan-ikan kecil sehingga kontak antara ikan lebih kecil.






Prosedur Packing
Penangan pratransportasi
1.      Panen
-    Pada pagi hari
-    Menggunakan alat yang ramah untuk ikan
-    Pemindahan dari air ke air
2.      Greding/sortasi
-    Pemeliharaan sesuai dengan jenis dan ukuran
3.      Treatment
-    Perendaman dalam obat-obatan tertentu untuk menghindari penyakit-penyakit tertentu! (herbal dan kimia)
4.      Pemberontakan/ pemusnahan di air yang mengalir max 24 jam