BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma,
dan dapat pula dikatakan bahwa semua jenis kehidupan bersifat akuatik. Dalam
prakteknya, suatu habitat dikatakan akuatik apabila mediumnya baik eksternal
maupun internalnya adalah air.
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan
kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum,
perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli
kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan
kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan
pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah
uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna).
Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk
hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan
dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan
terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar
logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan
sebagainya) (Effendi, 2003).
Lima syarat utama kualitas air bagi kehidupan ikan
adalah :
1. Rendah kadar amonia dan nitrit
2. Bersih secara kimiawi
3. Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang sesuai
4. Rendah kadar cemaran organik, dan
5. Stabil
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua
cara, yang pertama adalah pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan
kimia (suhu, O2 terlarut, CO2 bebas, pH, Konduktivitas, Kecerahan, Alkalinitas
), sedangkan yang kedua adalah pengukuran kualitas air dengan parameter biologi
(Plankton dan Benthos) (Sihotang, 2006).
Suhu suatu perairan juga dipengaruhi oleh sinr
matahari dan sedimentasi yang terdapat disuatu perairan tersebut.
1.2. TUJUAN
Tujuan
dilakukannya pratikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis – jenis air
terhadap suhunya. Dan sebagai media pembelajaran bagi mahasisiwa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 AIR
Air, merupakan sumber daya alam yang dapat memenuhi hajat hidup
orang banyak, oleh sebab itu perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi
hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hal ini berarti bahwa
pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana
dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
Namun, sebagai akibat dari pesatnya proses pembangunan di segala
bidang, baik bidang pertanian, peternakan, industri dan lain-lain, serta laju
pertumbuhan penduduk yang sangat cepat seringkali pemanfaatan air tidak lagi
dilakukan sebagaimana mestinya. Hal ini memberikan dampak negatif yang tidak
sedikit yaitu mempengaruhi baik sifat fisik maupun sifat kimia air, sehingga
menurunkan kualitas air.
Menurut PP. No 82 tahun 2001, menurut peruntukannya, air dapat
dibagi atas 4 kelas yaitu:
Kelas
I : Air yang dapat digunakan
sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
Kelas
II : Air yang dapat digunakan
sebagai bahan air minum
Kelas
III : Air yang dapat digunakan untuk
keperluan perikanan dan peternakan
Kelas IV :
Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan
untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik tenaga air.
2. 2. SUMBER PENCEMARAN
AIR
Sumber pencemaran air sangat ditentukan oleh jenis kegiatan serta
pemanfaat sumber daya air oleh manusia yang berada disekeliling air tersebut.
Kualitas air menjadi menurun sebagai akibat dari masuknya berbagai limbah, baik
limbah cair maupun padat kedalam aliran air ataupun danau. Limbah tersebut
berasal dari:
1. Daerah pemukiman.
Yaitu berupa limbah domestik. Bahan pencemaran umumnya berupa
bahan-bahan organik seperti: karbohidrat, minyak dan lemak, protein dan
lain-lain.
2.
Daerah pertanian.
Bahan pencemar dapat berupa residu pestisida, pupuk dan lain-lain.
3.
Daerah peternakan dan
perikanan.
Bahan pencemar umumnya berupa sisa-sisa makanan ternak, kotoran
ternak dan lain-lain.
4.
Kawasan industri.
Bahan pencemar dapat berupa bahan-bahan organik, unsur-unsur lain
seperti logam berat, serta barang berbahaya dan beracun lainnya.
Berbagai kegiatan/industri memang berpotensi menimbulkan
pencemaran terhadap kualitas lingkungan termasuk air, oleh sebab itu pemerintah
telah menetapkan baku mutu limbah cair untuk berbagai jenis kegiatan maupun
industri seperti yang diatur pada KEPMEN LH. NO.51/ MENLH/10/1995, yang isinya
antara lain perlu dilakukan pengendalian terhadap pembuangan limbah cair ke
lingkungan.
Yang dimaksud dengan baku mutu limbah cair adalah batas maksimum nilai-nilai
paremeter limbah cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan (badan air).
Sedangkan limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan atau industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan
kualitas lingkungan (air ).
Mutu limbah cair adalah keadaan limbah cair yang dinyatakan dengan
debit maksimum, kadar maksimum dan beban pencemaran.
§ Debit maksimum yaitu : debit tertinggi yang masih diperbolehkan
dibuang ke lingkungan.
§ Kadar maksimum yaitu : kadar tertinggi yang masih diperbolehkan
dibuang ke lingkungan.
§ Beban pencemaran maksimum : beban tertinggi yang masih
diperbolehkan dibuang ke lingkungan.
Itulah sebabnya sebelum
dibuang ke sistem perairan, limbah cair terlebih dahulu harus diolah pada
Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), sampai kualitas yang dicapai memenuhi
persyaratan yang ditetapkan. Namum pada kenyatannya kebanyakan industri maupun
kegiatan lain masih membuang begitu saja limbahnya kea badan air, tanpa
mengolahnya terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan
kualitas air.
2. 3. DATA KUALITAS AIR
Kulaitas air ditenttukan oleh berbagai parameter antara lain
parameter fisik (warna, suhu, total padatan tersuspensi) dan parameter kimia
(pH, DO, BOD, COD). Jenis dan jumlah parameter yang dianalisis terhadap suatu
badan air sangat tergantung pada jenis kegiatan yang diprakirakan memberikan
dampak terhadap badan air tersebut.
2. 3. 1. Parameter Fisik
Ada beberapa parameter fisik yang menentukan kualitas air, antara
lain:
a. Warna
Air alami, yang sama sekali belum mengalami pencemaran, berwarna
bening, atau sering dikatakan tak berwarna. Timbulnya warna disebabkan oleh
kehadiran bahan-bahan tersuspensi yang berwarna, ekstrak senyawa-senyawa
organik ataupun tumbuh-tumbuhan dan karena terdapatnya mikro organisme seperti
plankton, disamping itu juga akibat adanya ion-ion metal alami seperti besi dan
mangan. Komponen penyebab warna, khususnya yang berasal dari limbah industri
kemungkinan dapat membahayakan bagi manusia mau bagi biota air. Disamping itu
warna air juga memberi indikasi terdapatnya senyawa-senyawa organik, yang
melalui proses klorinasi dapat meningkatkan pertumbuhan mikro organisme air.
b. Bau dan Rasa
Air alami yang sama sekali belum tercemar dikatakan tidak berbau
dan tidak berasa. Air yang berbau sudah pasti menimbulkan rasa yang tidak
menyenangkan. Adanya bau dan rasa pada air, menunjukkan terdapatnya organisme
penghasil bau dan juga adanya bahan-bahan pencemar yang dapat mengganggu
kesehatan.
c. Suhu
Dalam setiap penentuan kualitas air, pengukuran suhu merupakan hal
yang mutlak dilakukan. Pengukuran suhu air biasanya dilakukan langsung di
lapangan. Suhu air yang normal berkisar ± 3 0C dari suhu udara. Peningkatan
suhu air bisa disebabkan oleh berbagai hal, antara lain, air (sungai) yang
dekat dengan gunung berapi, ataupun akibat adanya pembuangan limbah cair yang
panas ke badan air. Disamping itu adanya limbah bahan organik, yang lebih
lanjut mengalami proses degradasi baik secara biologis maupun kima, seringkali
meningkatkan suhu air. Kenaikan suhu air dapat mengakibatkan kelarutan oksigen
dalam air menjadi berkurang, sehingga konsumsi oksigen oleh biota air juga
menjadi terganggu .
d. Total padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid,TSS)
Total padatan tersuspensi
adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan
millipore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus
serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi
yang terbawa ke dalam badan air. Materi yang tersuspensi mempunyai dampak buruk
terhadap kualitas air karena mengurangi penetrasi matahari ke dalam badan air,
kekeruhan air meningkat yang menyebabkan gangguan pertumbuhan bagi organisme
produser.
2. 3. 2. Parameter Kimia
Ada banyak parameter kimia yang menentukan kualitas air, namun
yang umum ada beberapa parameter, diantaranya:
a. pH
pH menunjukkan kadar asam atau basa dalam suatu larutan melalui
konsentrasi/aktifitas ion hidrogen (H+). Secara matematis dinyatakan sebagai:
pH = - log (H+).
H+ selalu ada dalam keseimbangan yang dinamis dengan air(H2O) yang
membentuk suasana untuk semua reaksi kimiawi yang berkaitan dengan masalah
pencemaran air, dimana sumber ion hidrogen tidak pernah habis. H+ tidak hanya
merupakan unsur molekul H2O saja, tetapi juga merupakan unsur banyak senyawa
lain. Dalam air murni, banyaknya molekul H2O yang terionkan ada sebanyak 10-7,
sehingga pH air dikatakan 7. Bila konsentrasi ion hidrogen bertambah, maka
nilai pH akan turun dan larutan disebut bersifat asam. Sebaliknya, jika
konsentrasi ion hidrogen berkurang, menyebabkan nilai pH naik dan larutan
disebut bersifat basa.
pH yang ideal bagi kehidupan biota air adalah antara 6,8 sampai
8,5. pH yang sangat rendah, menyebabkan kelarutan logam-logam dalam air makin
besar, yang bersifat toksik bagi organisme air, sebaliknya pH yang tinggi dapat
meningkatkan konsentrasi amoniak dalam air yang juga bersifat toksik bagi
organisme air. pH air biasanya ditentukan langsung di lapangan dengan alat
pH-meter, atau dapat juga dengan kertas pH.
b. Oksigen terlarut (DO)
Adanya oksigen terlarut dalam air adalah sangat penting untuk
kelangsungan kehidupan ikan dan organisme air lainnya yaitu untuk proses
respirasi. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak
tergantung pada cukup tidaknya kadar oksigen terlarut. Adanya oksigen terlarut
dalam air berasal dari udara dan dari proses fotosintesa tumbuh-tumbuhan air.
Kelarutan oksigen dalam air, tergantung pada temperatur, tekanan atmosfer dan
kandungan mineral dalam air. Kelarutan maksimum oksigen dalam air, pada suhu
00C yaitu sebesar 14,16 mg/L. Sejalan dengan meningkatnya suhu, maka
konsentrasi oksigen dalam air akan berkurang.
Ada dua metode yang umum digunakan untuk analisa oksigen terlarut
dalam air yaitu dengan metode titrasi cara Winkler dan metode elektrokimia
dengan alat DO-meter.
c. BOD
Angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau disebut juga Kebutuhan
Oksigen Biokimiawi adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara
global proses-proses mikrobiologis yang sebenarnya terjadi di dalam air.
Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
mikroorganisme aerobik untuk menguraikan hampir semua zat organik yang terlarut
maupun yang tersuspensi di dalam air. Pengukuran BOD diperlukan untuk
menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk ataupun industri dan
untuk mendesain sistim pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut.
Penguraian zat organik adalah proses alamiah, yang kalau suatu badan air
dicemari oleh zat organik maka selama proses penguraiannya mikroorganisme dapat
menghabiskan oksigen terlarut dalam air tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan
kematian ikan-ikan dalam air. Disamping itu kehabisan oksigen dapat mengubah
keadaan menjadi anaerobik sehingga dapat menimbulkan bau busuk.
Pengukuran BOD didasarkan atas reaksi oksidasi zat organik oleh
oksigen dalam air, dan proses tersebut berlangsung disebabkan adanya bakter
aerobik. Menurut penelitian, untuk supaya 100% bahan organik terurai,
diperlukan waktu kira-kira 20 hari. Namun dalam waktu 5 hari, pada temperatur
inkubasi 20 0C, bahan organik yang dapat diuraikan mencapai 75%, sehingga waktu
ini sudah dianggap cukup. Maka timbullah istilah BOD520 dapat ditentukan dengan
mencari selisih antara harga DO0-DO5 dengan metode Azida modifikasi.
d. COD
Angka COD (Chemical Oxygen Demand) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi
adalah jumlah O2 (mg) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi total zat-zat organik
yang terdapat dalam 1 liter sampel air. Angka COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh total zat-zat organik baik yang dapat diuraikan secara
biologis, maupun yang hanya dapat diuraikan dengan proses kimia.
Analisa COD berbeda dengan analisa BOD, namun perbandingan antara
angka COD dengan angka BOD dapat ditetapkan. Secara umum perbandingan BOD5/COD
= 0,40 – 0,60. Pengukuran COD dilakukan dengan metode refluks – titrimtri.
2.4 Tawas
Tawas (Alum) adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia
Al2(SO4)3.11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O, umumnya yang digunakan adalah 18 H2O.
Tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan, karena bahan ini
paling ekonomis,mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah
pemakaian tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin
tinggi turbidity air baku maka semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan.
Pemakaian tawas juga tidak terlepas dari sifat-sifat kimia yang dikandung oleh
air baku tersebut.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
Al2(SO4)3 2
Al3 + 3 (SO4)-2
Air akan
mengalami:
H2O H+ + OH-
selanjutnya
2Al +3 + 6OH- 2 Al(OH)3
Selain itu akan dihasilkan asam
3 (SO4)-2 + 6H+ 3H2SO4
Dengan demikian makin banyak dosis tawas yang ditambahkan maka pH
akan semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat. Apabila alkalinitas alami
dari air tidak seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinitas,
biasanya ditambahkan larutan kapur (Ca(OH)2) atau (Na2CO3). Reaksi yang
terjadi:
Al2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 2 Al(OH)3 + 6CO2
Al2(SO4)3 + 3Na2CO3 + 3H2O 2Al(OH)3 + 3
Na2SO4 + 3CO2
1.
Al2(SO4)3 + 3Ca(OH)2
2Al(OH)3 + 3CaSO4
2.
Gambar 2. 1. Reaksi
penambahan larutan kapur
3.
Koagulan yang berbasis
aluminium seperti aluminium sulfat dan poly aluminium klorida yang digunakan
pada pengolahan air minum untuk memperkuat penghilangan materi partikulat,
kolloidal dan bahan-bahan terlarut lainnya melalui proses koagulasi. Pemakaian
alum sebagai koagulan dalam pengolahan air, sering menimbulkan konsentrasi
aluminium yang lebih tinggi dalam air yang diolah dari pada dalam air mentah
itu sendiri (Srinivasan).
2.5 Aluminium
Aluminium merupakan logam yang paling banyak di dunia,
ditemukan dalam tanah, dalam air dan udara. Sekitar 6% kerak bumi terdiri dari
aluminium. Elemen ini adalah logam paling berlimpah yang secara alami terdapat
di udara’ tanah dan air. Oleh karena itu, eksposur lingkungan terhadap
aluminium adalah memungkinkan secara potensial.
Perannya tidak bisa dihindari karena senyawa-senyawa
aluminium ditambahkan bukan hanya ke suplai air tapi juga kebanyak makanan dan
obat yang di proses (Tony Sarvinder Singh). Sifat-sifat kimia dan fisiknya
membuatnya ideal untuk berbagai jenis pemakaian. Misalnya, aluminium dan
senyawa-senyawanya sering digunakan dalam makanan sebagai aditif, dalam
obat-obatan (misalnya antacid), dalam produk konsumen (misalnya alat-alat masak
dan aluminium foil) dan dalam pengujian air minum (misalnya koagulan). Karena
aluminium sangat pervasif dalam lingkungan, pada titik yang tidak bisa
dihindari, maka pengaruhnya terhadap manusia menunjukkan hubungan antara intake
aluminium dan dementia neurologis pada pasien dialisis ginjal (encephalopati
dialisis). Akhir-akhir ini publik dan media telah memperhatikan efek buruk
yang mungkin dari aluminium terhadap kesehatan manusia, termasuk perannya dalam
penyakit Alzheimer, penyakit Parkison dan Sclerosis lateral amyotropik (Lou
Gehrings disease), juga mengenai resiko potensial terhadap bayi yang minum
formula bayi yang mengandung aluminium.
2. 6. Sulfur
Sulfur atau belerang adalah unsur kimia di dalam sistim
periodik yang mempunyai simbol S dan nomor atom 16. Sulfur bukan logam multivalen
yang berlimpah, tanpa rasa dan tanpa bau. Sulfur, dalam bentuk aslinya,
adalah satu kristal padat yang berwarna kuning. Dalam alam ditemukan dalam
bentuk unsur murni atau dalam bentuk mineral sulfida atau sulfat. Merupakan unsur penting untuk kehidupan dan
ditemukan dalam dua asam amino. Secara komersilnya, sulfur digunakan
terutama dalam baja dan juga digunakan secara meluas dalam mesiu,
korek api, racun serangga dan racun jamur.
1.
Hidrogen sulfida (H2S)
dikenal dengan nama sulfana, sulfur hidrida, gas asam (sour
gas), sulfurated hydrogen, asam hidrosulfurik, dan gas limbah
(sewer gas). Asam sulfida merupakan gas yang tidak
berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat
timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik
dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa,
dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari
aktivitas gunung berapi dan gas alam.
BAB III
MATERI DAN
METODE
3.1.
Tempat dan Waktu
Kegiatan
dilaksanakan di Workshop Pembenihan Ikan Fakultas Perikanan Universitas PGRI
Palembang. Kegiatan pratikum ini dilasksanakan pada hari Selasa, 2 Oktober 2012
pada pukul 05.30-20.00 WIB.
3.2. Bahan
1. Air
Teh
2. Air
Keruh Lumpur
3. Air
Keruh Fitoplankton
4. Air
Danau Opi
5. Air
PAM
3.3.
Alat
1. 15
botol aqua
2. Pisau
3. Papan
4. Thermometer
elektrik
3.4
Prosedur Kerja
1. Menyiapkan
semua bahan yang akan digunakan,
§ 5jenis
air yang berbeda yang dan letakkan di botol aqua.
§ Botol
aqua di potong kepalanya lebih kurang 10
cm dr mulut botol aqua.
2. Aqua
yang telah di isi dengan5jenis air kedalam aqua tersebut, letakkan di atas
papan agar panas yang diserap murni dari sinar matahari bukan hasil rambatan
dari faktor lain.
3. Kemudian
ukur suhu masing- masing jenis air dengan Thermometer elektrik dengan 1 jenis
air 3 kali pengulangan. Tiap pukul 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00
WIB.
4. Catat
hasilnya.
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL



4.2 PEMBAHASAN
Tiap organisme perairan mempunyai batas
toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu perairan bagi kehidupan dan
pertumbuhan organisme perairan.Oleh karena itu suhu merupakan salah satu faktor
fisika perairan yang sangatpenting bagi kehidupan organisme atau biota
perairan. Secara umum suhuberpengaruh langsung terhadap biota perairan berupa
reaksi enzimatik padaorganisme dan tidak berpengaruh langsung terhadap struktur
dan disperse hewan.
Perubahan suhu pada lima
jenis air tersebut menunjukkan diagram batang yang memiliki angka suhu yang
tinggi pada pukul 15.00 WIB sore dan nilai suhu yang terendah pada pagi hari
pukul 06.00. WIB. Dimana pada pukul
06.00 WIB.
Suhu udara pada waktu
pengukuran pada pukul 06.00 WIB yang tercatat ialah 28,80C. Jadi disini kondisi suhu air rentan masi
rendah mengikuti suhu udara belum ada pemuaian cuaca panas yang terjadi, maka
suhu air masih rendah karena terpengaruh oleh suhu udara yang rendah.
Pada sore hari pada pukul 15.00 WIB suhu
udara yang tercatat yaitu 35,20C ,mengapa pada saat pukul 15.00 suhu
air lebih tinggi? Mengapa bukan pada saat pukul 12.00 siang? Karena panas yang
paling tinggi terjadi kisaran waktu 12.00 – 15.00 WIB, jadi panas yang diserap
oleh air masih tertangkap didalam air karena untuk proses penguapan air itu
sendiri terjadi cukup lama. Jadi efek sinar panas di waktu sebelumnya masih
terbawa akibat belum menguap.
Dan di saat pukul 18.00 WIB – 21.00 WIB
suhu udara kian menurun kembali menuju suhu netral. Dan hasil penelitian
suhunya, suhu air kian menurun dan panas
yang terkandung di dalam air kian menyusut mengikuti suhu cuaca.
Partikel air juga mempengaruhi tingkat
perubahan suhu. Pada saat menjelang siang hari jenis air yang sedikit
mengandung partikel seperti teh, PAM, lebih cepat terjadi perubahan suhu
dikarenakan partikel yang terdapat dalam jenis air tersebut tidak mampu
menyerap panas yang masuk kedalam perairan tersebut. Pada saat menjelang malam
hari menjadi berdanding terbalik Jenis air yang mengandung banyak partikel
perubahan suhunya sangat lambat dibandingkan jenis air yang mengandung sedikit
partikel. Karena panas yang diserap oleh partikel tersebut yang menghambat
proses terjadinya penguapan, karna panas yang diserap oleh partikel.
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
§ Perubahan
suhu sangat dipengaruhi oleh partikel yang terdapat dalam suatu perairan.
Semakin sedikit partikel air maka suhu air akan cepat berubah.
§ Penguapan
panas didalam air dipengaruhi oleh partikel. Semakin banyak partikel maka akan
semakin lama suhu perairan akan turun pada malam hari.
5.2. Saran.
1. Dalam
melakukan penelitian pengukuran suhu udara dan suhu air dilakukan dengan cermat
dan teliti.
2. Pada
saat penelitian sebaiknya kondisi cuaca netral, karena pada saat melakukan penelitian cuaca di pukul
09.00 – 12.00 sedikit mendung.
DAFTAR PUSATAKA
Sitohang,
Clemens dkk. 2010. Limnologi.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27492/3/Chapter%20II.pdf
Effendie.
2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan
sumberdaya dan lingkungan perairan. Kanisius.Jogjakarta ,1979 Metodologi Biologi Perikanan. Yayasan
Dewi Sri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar